Selasa, 28 April 2009

Kelinci kecil yang tersesat

Jika aku adalah seekor kelinci kecil yang tersesat di sebuah pasar malam, akan kudatangi permainan rolet yang begitu menggiurkan. Kupangkas satu persatu ambisi dalam mata-mata manusia itu dengan jernih mataku. Kuumbar lugu agar mereka terlenan dalam ramainya ego yang berkejaran, berkelabat diantara tubuh-tubuh itu. Lalu akan kutenggak dari botol yang digenggam oleh bandar tambun itu biar aku mabuk dan menari bersama kesadaran bernama kekalahan.

Jika aku adalah seekor kelinci yang nyasar di sebuah pasar malam, akan kurogoh peti uang para pengadu keuntungan agar tekumpul di karungku dan kuseret pada perempuan penjual tahu atau kakek penjaja jamu. Kutanya pada mereka tentang janji malam ini pada anak-anaknya, lalu kusisihkan untuknya; kulumlah rasa itu dan bagi pada anak-anakmu yang rindu manis kasih dari keping-keping tak berharga itu.

Jika aku adalah seekor kelinci yang nyasar di sebuah pasar malam, kuseret karung penuh keping dari pundi para penjudi. Kuhampiri penjual gula-gula dan boneka, kubagai pada kanak-kanak tanpa senyum masih polosnya agar mereka bercengkrama bersama manis asap kehidupan.

Jika aku adalah seekor kelinci yang tersesat di sebuah pasar malam, aku akan segera pulang setelah pundi-pundi kuhabiskan. Toh aku hanya seekor kelinci yang hanya butuh sepotong wortel atau segenggam sayuran untuk kumakan. Jika aku adalah seekor kelinci yang mencari jalan pulang dari pasar malam, akan kucari kelinci jantan yang kuat, karena besok aku ingin menghabiskan malam di hiruk pikuknya lapangan ini dan menghimpun pundi-pundi tak berharga lebih banyak lagi, agar punggung dan lenganku bisa bergerak bebas tanpa beban, nikmati senyum dan potongan wortel dengan riang. Hh... masih kurasakan pundi-pundi itu terlalu berat terseret di belakang punggungku. Walau aku hanya jika seekor kelinci yang tersesat di sebuah pasar malam.

Rabu, 04 Maret 2009

Padamu Ibu,

Belahan Jiwaku

Setiap tetes peluh,Setiap detak jantung

Dalam denyut nadi,Dalam aliran darah

Dalam tubuh ringkih

kekokohan dalam kerapuhan raga, ketegaran dalam gelombang dunia

kesabaran dalam ribuan cerca dan hina, keperkasaan dalam keterbatasan hakiki

Hanya senyum dan kepasrahan sempurna

Meski ada luka

Tergores,

menetes

Penuh darah

mengucur

basah

kausambut dengan bentangan samudra maaf

lahirlah aku dari rahim sucinya,tumbuhlah aku dalam rengkuhan kasihnya

sadarlah aku dengan kerut di keningnya, dengan raut wajahnya

dengan air matanya

dewasalah aku dibawah jangkauan mata hatinya, berharaplah aku akan binar matanya

mengertilah aku dengan sentuhan tangannya, melalui untaian kata yang terucap dari hatinya

aku bertanya,aku belajar, dengan tangisan, dengan jeritan, dan bantahan, juga canda nakal

ada makna dalam tiap ujarnya

tentang penghambaan pada Rabbnya

tentang pengabdian,tentang kesabaran, kedewasaan

tanggung jawab, tentang kehormatan

tentang hidup dan kehidupan,tentang pengorbanan dan keikhlasan

meski dengan sederhana

Hanya cinta yang bisa dia beri

Hanya penerimaan tanpa sedikitpun penolakan

Hanya pengertian

Hanya kasih yang tak kunjung surut

Hanya penderitaan atas pengorbanan---yang katanya membahagiakan

Hanya....

dia menerima dengan lautan kesabarannya

dia melayani dengan pengorbanan—yang disebutnya dengan pengabdian

dia menanti dengan rindu yang dipendamnya

dia mengharap dalam telaga cintanya

dia menunggu dengan diam

dalam diam

Berharap walau tak terucap...

Dia perempuan yang kupanggil “Ibu”

Dia yang menyebut aku dengan “Buah Hatiku”

Dialah Belahan Jiwaku

2005

My mom is amazing…

lima jagoanku





Tiga bidadari super cerewet…

Hm.. kangen sama ponakan kecil yang lucu-lucu…. Mereka beda. Dari karakter, kesukaan,…

Tapi mereka tetap anak-anak yang luuuchu…

Earlene (yang pake bando putih), suaranya lembut. Langsung meneteskan air mata kalo ada orang yang negur dia dengan intonasi yang agak tinggi. Panggilannya Cellin. Suka banget sama Gita Gutawa. Punya teman khayalan, ‘obio’ namanya. “Obio’ is a boy!” katanya waktu berumur tiga tahun. Dia ngefans berat sama adek ibunya yang terakhir… (hehehe…). Sekolah di TK Al-Furqon Jember, Kelas B II. Sudah punya album rekaman, sering menang lomba nyanyi dia. Awalnya les keyboard, eh… pas diminta nyanyi suaranya bagus, di nada tinggi dan falsetto. Mirip Gita Gutawa (hehe…). Dia pernah nyanyi buat saya,”Ya ukhti…ya ukhti… engkau begitu ‘…’” Hm… semoga dia nanti bisa memahami apa yang dinyanyikannya. Rangkaian katanya indah. Percaya atau tidak dia sering spontan merangkaikan kata dalam nada… Narsis berat… cerita favoritnya adalah tentang puteri, Barbie dan semacamnya. Melankolis dan perasa. Wah… intinya ni anak cewek banget..


Terus sebelah kirinya panggilannya Rere (Rallyna Satria Andi). Tomboy banget tapi sensitifnya tinggi. Kalo bener-bener sedih dia lebih memilih menangis sendiri, yang ngga diketahui orang. Ceria, suka melayani dan menghibur orang lain, tapi sudah keliatan introvertnya. Punya teman khayalan juga, dulu namanya mbak Cica, terus Lala. TK A di TKIT Bina Insani Kediri. Ngefans sama gurunya dan Pak Tsalis… lucu dan baek katanya. Suka banget belajar dan membaca, tapi ngga suka sekolah (dulu waktu didaftarkan TK dianya ngga mau, malah ngajak mancing di samping sekolahnya ^_^). Sayang banget juga sama adek mamanya (:P) hati-hati, pertanyaannya. Maut. Jawabnya kurang tepat bisa repot urusannya. Apalagi tentang Alloh, surga, neraka, setan dan malaikat. Punya sepasukan bebek dan mentok. Ga suka pakai sandal kalau main. Hm… sesuai namanya (Rally), dia sudah bisa nyetir motor lho, bisa belok, mau ngebut atau kalem ayo aja (tapi tetep saja yang ‘dibelakangnya’ yang ngoperasikan motornya). Takluk sama satu orang; mamanya. (kalau ditanyai,”Re, mama gimana marahnya?” maka di akan tersenyum. Ya mamanya marahnya senyum, biar di matanya ngga ada setannya!). Suka nyanyi juga (dari Rere saya hapal lirik-lirik lagu pop), tapi suaranya ngga seterlatih Cellin. Pernah waktu hujan deras dia nyanyi keras dan mendongak ke atas, “Tuhan kirimkanlah aku… kekasih yang baik hati.” lagunya J Suka banget sinetron (padahal sudah ‘ditilap-tilap’ biar ngga liat) sampe jam 10 malem pun dia sanggup diam di depan tivi sambil meleleh air matanya… Hobi banget ngingetin orang lain kalau lupa baca doa sebelum tidur, makan, atau pergi… Pernah satu kali diajak makan sama pak de dan teman-temannya, pas makanan sudah siap dan orang-orang besar ini mau menyuapkan ke mulut dia langsung teriak,”Stop. Kok belum berdoa.” Hehe…

Yang paling kecil ni namanya Catherin, dipanggilnya Erin. Paling cerewet, tapi cerdas. Umurnya dua tahun, sudah sekolah TK. Suka banget sama krupuk dan rempeyek. Suaranya rame, baru diam kalau lagi sedih atau dua sepupu laki-lakinya lagi main perang-perangan. Grup band favoritnya Chancuters…. “Wacooon…” gitu suaranya kalau ngajari saya menyanyi. Mudah hapal sama lirik lagu, apalagi dmasiv. Adeknya Cellin ini paling ngga suka kalau ditolong pake baju dan sepatu, di akan bilang,”Bisa bisa, Eyin bisa kok…” semalem suntuk dia betah nonton wayang kulit, apalagi wayang orang… Apa ya yang bikin dia tertarik…

Seniman ‘aneh’. Namanya Thoriq panggilannya Ivan, sering juga dipanggil adek. Kelas 3 di Sekolah yang sama dengan masnya. wiih… ga banyak kata buat mendefinisikan anak ini... saking berwarna dan ‘kacaunya’. Suka gitar, gambar dan olah raga. Easy going dan temannya banyak. Beda banget sama Imen kakaknya, tapi dia juga paling ngga suka dibanding-bandingkan. Tapi saya pikir dia itu jenius, otak kanannya keren. Anehnya, kalau tidak ada orang lain, hafalannya lancar, hitungannya juga ngga ada baik-baik saja… G ada masalah kan? Pinter cerita dia, paling suka kalau mendengar dia cerita tentang hukumannya dia, remedial test, dan ‘ketidaksabaran’ gurunya menghadapi ‘kebandelannya. Bagi saya itu keren sekali…

Ivan sering bikin mamanya gregetan. Sepertinya dia punya aturan sendiri buat hidupnya… bikin seasyik-asyiknya, sekonyol-konyolnya. Malu buanget kalau ketahuan belajar dan dapet nilai bagus. Kalau sama temen care banget. Punya motivasi diri yang tinggi, punya sudut pandang ‘aneh’ yang bikin dunia disekelilingnya beda. Dia sensitive dan penyayang, sepertinya melankolis juga... Favoritnya adalah maen gulat dan perang-perangan sama masnya. Selain makan, kesukaannya yang satu ini yang bikin dia nyambung sama Imen.

Lha kalau ini calon ilmuwan yang takut kodok. Namanya Firman, Imen panggilannya. Anaknya pinter. Apalagi matematika dan IPA. Dia juga perhatian kalau ada isu-isu politik, pilkada, pemilu, pemilihan gubernur atau ‘berantemnya’ para orang terkenal di tivi. Di juga suka acaranya Nany 911. Waktu luangnya untuk benar-benar main cuma hari libur saja. Mainan kesukaannya catur dan monopoli. Juga game computer yang ngga terlalu rame. Dia suka buka-buka buku-buku adek ayahnya , buku-buku aneh katanya. Bau debu dan bau kuno ^_^. Heran berat sama sastra, kok ada orang yang suka baca sastra, pelajarannya apa saja sih… Sekolah di SD Rahmat Kediri kelas 5. jam 3 pulang sekolah, habis itu les lagi sampai jam 8 malem. Kadang saya berpikir, bagaimana capeknya dia ya… tapi kok dia ngga pernah mengeluh kalau pengen maen sama temen-temennya.. Waktu TK ‘nakal’ banget, aktif dan suka ganggu temennya. Tapi semakin besar kok semakin pendiem ya..

Sepupu-sepupunya suka nggoda bawa batu yang digenggam, trus dibilangi kalo itu kodok wah… mukanya langsung pucet dan lemes… hehe… Kakaknya Ivan ini suka sebel sama adeknya, soalnya susah diajak sholat… terus kalau diajak hafalan suka becanda…dan ngga disiplin. Jadi dia sering ikut telat juga kalau masuk sekolah. Hampir tiap akhir pekan dia geleng-geleng kepala soalnya harus nungguin adeknya dihukum atau remedial test…

Nah… gimana keadaannya kalau lima anak ini dijadikan satu? Sudah keliatan jawabannya: kacau! Sepeda, bola, boneka, skateboard, sepatu, gelas, majalah, kertas, keranjang baju, selimut campur baur jadi satu di ruang tamu yang sempit. Suara teriakan, tertawa yang keras atau celotehan-celotehan cerita lucu yang pengen seru-seruan. Cellin yang feminin bisa ketawa ngakak sama Rere yang maennya agak ‘keras’. Tapi Rere yang tomboy habis tiba-tiba pengen pakai baju dan sepatu ala puteri. Belakangan ini Rere jadi lebih centil lho, suka nyanyi di depan kaca… Imen dan Ivan makin seru main perang perangannya… dorong-dorongan keranjang baju, oles-oles bedak,… kalau udah kacau seperti ini Erin naik kursi dan teriak-teriak ngasih semangat. Kalau dia merasa ngga dipedulikan, maka dia akan nyanyi Twinkle-twinkle Litle Star sekeras-kerasnya… nah… kalau sudah seperti ini, siapa juga yang ngga pengen ikut maen dan teriak-teriak…. Hehehe… mumpung ada temannya :P

Itu baru gambaran dari lima anak diantara berjuta anak dengan setiap keunikan dan ciri khas mereka. Apakah kemudian karakter dan kepribadan tiap anak selalu berubah ketika berhubungan dengan orang lain. Bisa jadi ini adalah sebuah identifikasi diri mereka terhadap orang lain, sama seperti remaja yang cenderung mengidentifikasikan dirinya dengan orang hebat atau terkenal yang mereka ‘baca’. Mungkin juga kebiasaan dan pandangan yang dipakai oleh mayoritas lingkungan bergaulnya, hingga memungkinkan kepribadiaannya berbeda antara lingkungan social yang satu dengan yang lain, saat dia sendiri, bersama keluarganya,….

Lalu bagaimana jika seorang anak seringkali diabaikan, dibanding-bandingkan dengan anak lain yang dianggap lebih unggul. Apakah dia akan tumbuh dengan rasa percaya diri, menghargai diri sendiri, atau dia akan merubah dirinya menjadi seperti orang lain. Bagaimana dengan kemampuan dan bakat unik yang ada dalam setiap individu ini akan berkembang dengan baik, jika ukuran keunggulan adalah—misalnya—pandai dalam pelajaran, manut, disiplin dan telah mengukir prestasi yang sudah diakui. Begitu juga sebaliknya, apakah pertumbuhan emosi dan kepribadian anak yang seringkali dipuji dan dibandingkan dengan anak yang ‘kurang berprestasi’ dengan baik diterima oleh mereka sebagai bentuk penghargaan atas kerja kerasnya, bukan sebagai pemacu ‘superioritas dan ego’ mereka. Bolehkah seorang anak ‘dibiarkan’ berpuas-puas dulu bermain ‘senakal-nakalnya’?

hmm... mungkin orang psikologi lebih tahu...^_^

Kamis, 16 Oktober 2008

sesuatu yang menggerakkan.

saya hanya bisa diam, saat rangkaian kata itu muncul dari lelaki kecil itu
'teman diskusi' saya tiap sore.
setelah liburan panjang, sore itu adalah perjumpaan pertama kami.
dia pendiam. kata-katanya singkat. perasaannya tak selalu tersampaikan sepenuhnya...
setiap kami bersua selalu kuberi jeda padanya untuk merangkai kata-kata pada bukunya, agar yang tak tersampaikan dapat diluapkannya. ada 'perjanjian' bahwa saya boleh tahu jika dia mengijinkan.

hari itu, dia telah menunggu di depan televisi ditingkahi celoteh adiknya yang seakan tak pernah habis kata dari bibir mungilnya... seperti biasa dia hanya diam dan menatapnya.
....
....
....
langsung kami mulai belajar...
sebelum belajar aku minta maaf padanya. aku terlambat, setelah antri panjang untuk pesan tiket. membaca laskar pelangi nanti malam. lelaki itu menatap saya seakan ingin mengungkapkan sesuatu. mungkin dia akan menulis lagi pikir saya.
ternyata, rangkaian kata yang selalu kuharapkan waktu itu bermunculan seakan tak ingin berhenti. tentang laskar pelangi. tentang -- dia menyebutnya gemintang---, tentang ikal yang bisa sekolah sampai tinggi.., tentang tawanya, tentang air matanya, tentang perasannya, tentang apa yang dipikirkannnya.
semua, tiba-tiba keluar dan menghasilkan harapan padanya....
begitu luar biasanya... hingga kuat melekat pada dirinya.....


seperti pesannya, memberilah banyak-banyak........



(banyak hal, yang sepertinya tak tersampaikan jika hanya kutulis disini :))

Minggu, 12 Oktober 2008

antara aku, jiwa, cinta, dan mereka!

Kadang, tanpa kita sadari ada banyak aku dalam ada
Berbeda dan selalu berbincang dalam ruang maya atau nyata
Ketika memandangi diri dan mencoba memahami
Menguak kemunafikan, menampakkan kebenaran atas kebohongan.
Seorang aku, mencoba memaknai kembali perjalanan hidupnya
Bersama jiwa, bertanya kembali tentang CINTA, Mengorek luka yang kini semakin menganga
Karena luka itu ada setelah celupanNya menyentuh jiwa
Mereka, jiwa-jiwa itu, terus berbisik dan berebut untuk berbisik semakin keras dan jelas.
Agar Aku, dan jiwanya selalu tersadar.
Terus mengejar diantara pembelaan yang semakin deras berkata
Dalam ketakpedulian apa itu makna.. Diantara serpihan nikmatnya luka
Mencoba memperkuat tali penuntunnya yang mulai rapuh
Dan jiwa-jiwa itu bertemu dalam satu

antara aku, jiwa, cinta dan mereka!

Aku’ : Aku merenung. Jiwa di depanku
Aku duduk. Jiwa memandangku tajam.

Kupandangi jasadku
Pada cermin itu
Kutanya pada diriku
Siapakah aku

Kupandangi jasadku
Juga pada cermin itu
Tetap ada tanya dihatiku
Apakah aku

Kupandangi jasadku
Masih pada cerminku
Ada tanya lagi dihatiku
Kemanakah tujuanku

Tetap kupandangi jasadku
Yang tergambar dalam cermin itu
Tersisa banyak tanya dihatiku
Untuk apakah aku
Siapakah tuanku ....


Jiwa : Berapa umurku
Aku : 20 kukira
Jiwa : Apa saja yang telah aku lakukan
Aku : aku.... aku telah....

Aku’ : Kemudian muncullah masa membawa lembaran bayangan ... lukisan dan kulihat diriku disana.

Jiwa : cinta
Aku : ya... cinta.
Jiwa : pernahkah kau jatuh cinta...
Aku : ..... yah.......
Aku’ : Kuhempaskan tubuh lelahku---- lelah ?
Apa yang telah kulakukan ?
Jiwa menatapku dengan pandangan yang tetap menusuk bagai seorang hakim di pengadilan bernama ketidakadilan---menurutku
Jiwa : Berapa kali kau jatuh cinta
Aku : ...jatuh cinta...
Bahkan aku tak tahu apa itu
Jatuh cinta....
Apakah sesuatu yang telah diperkenalkan, diyakini oleh dogma

... jatuh cinta...
hanya berupa getar halus yang mempermainkan perasaan
menelikung hati menuju ketakberdayaan
bergelimang keindahan...... yang menyakitkan, menakutkan

jiwa : pada siapa kau jatuh cinta
aku : ... pada siapa ?
siapa.... bahkan akupun tak mengenal diriku sendiri.
Pantaskah aku mengenal orang lain?

Aku’ : Masa kembali membawa lukisan
Aku ada disana
Putih – biru ada sebuah kain menutup kepalaku
Ada seseorang disana, seorang pemuda
..........huf............ entah aku merasa dekat dengannya
...........tapi dia asing...
asing, seperti aku memandang diriku
(Film pada layar hitam)
jiwa : kau lihat ?
siapa dia
aku : dia... dia...
jiwa : cinta pertamamu
aku : cinta pertama, adakah ?
apakah aku sebelumya tak punya cinta
Dia.... cinta pertama ?
Jiwa : lalu...
Aku : lalu apa ? akupun tak yakin dia yang pertama
Jiwa : setelah dia !
Aku : setelah dia? Cinta kedua?
Jiwa : (dengan sinis dan dingin)
Ya.... cinta kedua
Aku : tapi aku yakin itu bukan cinta
Jiwa : (tertawa )
Lalu.... lalu apaaa
Haaa apa ?
Aku : entahlah... mungkin kagum, terpesona, simpati, nafsu...........
Aku’ : Masa berputar kembali dengan membawa lukisan.... lukisan hidup.
Seperti putaran film
Gelap
Aku’ : Aku ada disana. Cantik ! ya aku cantik dengan jilbabku
Anggun! Seperti puteri. Puteri biru. Indah
Tapi... (potongan film lagi- lelaki)
Jiwa : siapa dia
Aku : Dia? dia... entahlah
Jiwa : tapi kau menatapnya! Aku lihat ada binar disana
Cahaya di matamu!
Aku : bercahaya ? mataku? Bukankah itu goresan suram dalam lukisan itu? Menghianati jalinan nada dalam simfoni warnanya. Tidakkah kau lihat?
Jiwa : ya aku lihat. Aku ternodai, hitam ---- pekat! aku merasa kotor saat itu. Aku melihatnya
Ya... aku melihatnya dan aku merasakannya.... perih itu
AAAA.................
Aku ingat- aku ingat cahaya di matamu teteskan noda disini.... torehkan luka...... sakit........
Sakit ! kau tau! Lebih sakit dari ini...
Aku : maaf...
Jiwa : (menangis pasrah)
Bukankah kau sudah kenal cinta saat itu
CINTA !! bukan cinta!
Aku : berhentilah bertanya jiwa. Hentikan..
Jiwa : jika jiwa berhenti bertanya lalu untuk apakah jiwa ada ?
Jangan kau menelikung aku dengan kemunafikan ,dengan kepengecutan
Aku : sudahlah jiwa... aku lelah...
Ijinkan aku pergi... aku penat.
Jiwa : tunggu. Kau yang memulai
Kau bangunkan aku. Kau panggil masa. Kau robek kembali lukaku yang belum kering
Kau harus menyelesaikannya
Aku : aku.....
Jiwa : sudahlah..... CINTA dimana kau menemukannya
Aku : tapi aku lelah
Jiwa : tidak ! masa!
Aku’ : Masa berlari.... berkelebat, kencang, berputar cepat----- menikam aku..... membuatnya limbung dan jatuh
Masa melambat dan berjalan pelan..... tersenyum dengan keanggunannya yang dingin
Membawa deret lukisan panjang. Lukisan hidup tentang diriku
Ada aku.... dan mereka

Dan gumaman pun mendengung tak henti
Mengalun pelan dan tajam
Kadang lembut dan merdu
Memenuhi rangkaian ganglion di kepalaku
Mengalir deras melalui gelombang di ruang ada

(suara-suara berbunyi terus –menerus bersamaan)
(suara 1)
- Cinta itu esa, dia tidak satu, karna cinta tak berbilang. Tidak pun beribu tak berjuta
(suara 2)
- Cinta adalah sumber energi tak terbatas yang paling kuat, karenanyalah perubahan, dan aktifitas luar biasa tercipta. Yang mampu mendesirkan hati, menggerakkan langkah dalam setiap energi untuk gerak yang tercipta.
(suara 3)
- Cinta selalu ada tak bisa menolak sekuat apapun diri membohongi hati
(suara 4)
- Cinta adalah cahaya di hati, yang dapat membuat sesuatu menemukan maknanya
(suara 5)
- Cinta yang sebenar-benarnya cinta adalah sesuatu yang tak akan mati, dan tak akan pernah mati, karena yang mati hanyalah semu belaka. Cinta sejati adalah abadi karena ia datang dari Maha pemberi cinta
(suara 6)—(ketika akhir menjadi dominan)
- Aku memilih diam dalam dzikirku aku seakan menyimpan jawaban dari pertanyaan itu. ---Biarlah hanya Dia yang tahu. Sampai masa aku dan Dia bertemu. Aku dan Rabbku

Jiwa : tidak ! kau berbohong padaku!
Aku : jiwa......
Mengapa aku harus berbohong padamu
Sedangkan kau bagian diriku
Kita...... satu............
Jiwa : satu ?
Aku : ya satu!
Jiwa : tapi aku merasa ada banyak aku dalam dirimu
Aku : apakah kau ada dalam diriku?
Jiwa : ya..
Kau---aku. Aku---kau
------------dan mereka juga mungkin.
Aku : mereka?
Jiwa : ya... mereka
Aku yang lain
Aku : kau yang lain ? Siapa?
Jiwa : kau... !
Aku : kau... ? aku ??!
Jiwa : ya kau --- aku !!!

Ket..
Aku’ berdiri sendiri. Dia tahu aku & Jiwa, tapi mereka berdua seperti tidak mengetahui keberadaannya.
Datar. (semacam narator)
Audio: insrument by Kitaro ; Misty, A Drop of Silence, A Passage of Life
Video : rekaman2 masa lalu, siluet pemuda


*pernah dimainkan 2 kali. Oleh KOSMIS juga (siapa lagi..) agak ‘ribet’ merealisasikan naskah ini, harus ambil rekaman film juga. Alhamdulillah ada kameramen keren dari Fisip. Agak menguras energi juga. Tapi menyenangkan
** Dari sini aku sadari bahwa kemampuan itu tidak selalu utama. Ketika ada kemauan untuk bisa ditambah keikhlasan... tak ada yang bisa menghalangi. Tapi butuh profesionalitas juga, Schedule dan manajer! Kalau tidak.. wah bisa bikin ‘capek’.

Aneh..
Tapi tak harus habis makna. Pencipta kita, tahu segalanya tentang hambaNya. Penyakitnya, obatnya, kelemahannya, cara menguatkan dirinya… dan segalanya. Mata, kedekatan fisik, kedekatan hati, konsumsi pikiran…. Segalanya. Cinta, tidak salah. Manusia jatuh cinta. Berdosakah? Sedang kadang ‘aku’ juga tidak mengharapkan ‘rasa’ itu datang. Lalu untuk apa manusia diberi ‘resep’ menundukkan pandangan, ‘membatasi diri’, puasa, selalu ingat…
Jika kemudian dengan segala keindahan dan kemuliaan yang ada pada diri manusia dijadikan manusia lain sebagai penanding Penciptanya………
Cinta, bisa jadi adalah ujian yang akan meninggikan derajad kemuliaan kita. Bukan di hadapan manusia. Cinta, bisa jadi adalah ujian untuk kehormatan…
Cinta, bisa jadi adalah sumber energy yang membuat tumbuh, berkembang, menjadi lebih baik ‘sesuatu’ yang ‘aku’ cintai jika diapun menjaga kehormatan ‘yang dicintainya’.
Cinta, bisa jadi meluluhlantakkan hati, menuju ketakberdayaan, ketakpedulian, bahkan runtuhnya kemuliaan manusia…
Cinta…..
Cinta…
Cinta…
Cinta ini… kadang-kadang tak ada logika :P
Semoga Cinta terbaik yang ada pada diri kita… yang menguasai, yang mendasari, yang melingkupi hingga terpenuhi kebahagiaan. Sampai akhir. Saat menatap Wajah Sang Kekasih yang memandang kita dengan bangga. Karena berani menghadapi ‘cinta’…. Dan membuatnya tertunduk menyerah.

Jadi ingat sabtu siang pada Februari 2001, dua hari setelah bertambahnya angka umurku. Seseorang—aku menyebutnya ‘salah satu guru kehidupan’-- bertanya pada kami dalam sebuah lingkaran ‘makhluk bumi’,” Apa yang paling kuat, paling dasyat di alam semesta. Selain Penciptanya?” Hmm…. Bom atom? Uang? Wajah? Kecerdasan?
“No!”, jawabnya sambil tersenyum. Lalu?
Ah.. tahu sendiri kan jawabannya?
Buktinya? Runtuhnya Napoleon, Luluh lantaknya Jepang, PD I, PD II, Perang Dingin, ‘Bom bunuh diri’, nafas kita, setiap aliran darah, mata kita yang melihat indahnya dunia, keberadaan ibu untuk kita, setiap helai daun yang jatuh, tiap tetes mata yang mengalir,…. Kurang? Pejamkan mata, rasakan tiap tarikan nafas, rasakan degub jantung kita, sentuh tangan kita…. Bayangkan jika hidung kita mampet, kepala sebelah kanan terasa pening, dan pinggiran bibir sariawan…. Rasakan…. Bukankah itu Cinta?
Apakah kita akan buat cemburu Kekasih Yang begitu Cintai kita….. sedang cemburunya jauuuuhhh melebihi cemburunya Muhammad bin Abdullah, manusia yang paling pencemburu diantara seluruh manusia..
Resapilah kini… apakah yang cinta ada dijiwa kita. Apakah ada kegelisahan? Ketakutan? Keraguan? Rasa sakit…Sedang Cinta yang sebenar-benarnya Cinta tidak pernah menyakitkan, membuat ‘derita’, terbelenggu….

Sahabat Ibnu Umar ra berkata, bahwa Rasulullah saw telah bersabda: "Di antara hamba-hamba Allah ada sekelompok manusia yang mereka bukan nabi dan bukan pula syuhada', tetapi mereka mendapatkan kemuliaan di sisi Allah sejajar dengan para nabi dan para syuhada'." Lalu para sahabat berkata: "Ya Rasulullah, khabarkanlah kepada kami siapakah mereka itu?" Jawab Rasulullah: "Mereka adalah sekelompok orang yang saling memadu kasih karena Allah, bukan karena motivasi kekerabatan maupun materi. Demi Allah, wajah mereka bersinar bagaikan cahaya, bahkan mereka adalah cahaya di atas cahaya. Mereka tidak merasa takut ketika umat manusia dilanda perasaan takut" Lalu Rasulullah saw membaca ayat: "Dan ingatlah, bahwa para kekasih Allah tidak akan pernah dilanda perasaan takut dan tidak pernah pula dilanda perasaan sedih." (HR. Abu Dawud)

Semoga kita selalu diingatkan dan diberi kesempetan untuk berproses menjadi seperti mereka ya…
Menjadi perkasa, dan membuat makhluk langit cemburu pada kita ^_^
Saat ini, kuajak engkau kembali berbincang tentang Cinta. Ingatkan aku jika telah khianati Cinta. Dan kita akan terus memaknai Cinta…..memahami lalu kita sebarkan Cinta, hingga semua memandang penuh Cinta. Dengan bahagia.. dengan luapan rasa yang seakan tak terbendung…
© kutulis lagi dan berusaha kumaknai lagi……delapan tahun lebih perjalanan kita. Akankah kita menyerah? Seperti yang kau katakan, pencarian kita, proses ini tidak pernah akan berhenti. Sebelum nyawa telah tercabut. Tapi kataku, kita mungkin akan jatuh dan terdepak. Sakit aku tahu. Tapi pencarian ini tak pernah temui puncaknya hingga…. (bukankah mati juga adalah awal perjalanan?). bro, apakah ‘kecewa’, ‘lelah’ dan ‘cinta’ bisa luluhkan CINTA? Hai, itu kamu. Aku tahu. Aku tidak menengok kebelakang untuk menyesali… tapi kembali untuk memahami. Bukankah kita akan terus menjadi perempuan bumi,…….
© mahabbah club yang telah bertebaran di muka bumi dengan Cinta, semoga tetap bersama Cinta… Tetap. Sebarkan CINTA



Bolehkah ‘aku’ bertanya? Setidaknya untuk ‘jiwa’,”Apa itu Cinta?” atau kita biarkan dia bebas dengan setiap definisinya saja? Agar dia belajar, agar kita terus mengejar?

Jumat, 19 September 2008

semampir-pasar kembang-moroseneng

pikirku kembali ke masa pertengahan sekolah menengahku..

saat aku berada diantara perempuan-perempuan itu.

yang pernah kukagumi sosoknya

saat banyak orang mencaci.

aku tahu mungkin aneh.

aku selalu ingin melongok di balik kisah legam mereka

karena aku lihat perkasa

dan luka, amarah, 'pasrah'

tapi mereka menyerah.

dan mungkin berkata,"inilah aku. inilah tubuhku. hanya ini yang ada padaku."

"kujual padamu karna anakku harus beli buku, atau sekedar mengejar senyum yang meninggalkan mereka. saat lelakilelaki tak tahu diri itu tertawa gembira bebas lepas berlari dari mata mungil mereka."


aku lumpur, aku noda, aku tahu.

lalu apa?

kau hanya beri senyum sinis dan aku membela pahit.

tahukah kamu? aku juga rindu. seperti engkau. kepada penciptaku.

lalu kau bisa apa?


jawaban buntu karna aku tak tahu apa yang bisa aku beri untuk mereka.

moroseneng. dalam jiwa, yang rindu dewa. untuk membuat rumah. agar mereka juga bahagia. dan aku sadar mimpi itu tak terkejar...

Rabu, 03 September 2008

masih ada...

resapilah...
bumi tak lagi menggigil dan nyala malam semakin terang
remang senja dalam lingkupan debu kehidupan
semburat jingganya sampaikan bahwa 'aku' ada
nafas damai ada di pelataran seminya pucuk daun alam
masih ada senyum didunia, masih ada tawa disana
masih ada rasa
dan alam, masih selalu mengembangkan tangannya untuk kita
walau hanya luka yang kita torehkan didadanya
dengarlah bisikan gericik air matanya diantara desau angin yang menari diantara pejam matamu
mungkin duka.. atau bahagia...


*sekelumit barisan kata di kepala.
saat kulihat lembaran yang abadaikan tanah..
2030 kelak, apakah tanah dan hijau daun masih tersenyum..?