Rabu, 02 Maret 2016
Kamis, 25 Februari 2016
Memori Fitri 1436
Dulu belum saya pahami makna kata dan laku ibu setiap malam takbiran itu, saya pikir sekedar memasak untuk hari besar, hari bahagia. Hingga tahun ini, saat saya jauh dari beliau dan mendapat 'tugas besar' dari suami. Menjamu tamu-tamu suami tepat saat Idul Fitri di rumah mungil kami. Sebagai pengurus masjid setempat, suami mendapat semacam kehormatan untuk menjamu imam dan khatib sholat idul fitri dan pengurus masjid. Wah, saat mendengar hal ini saya langsung merasa tertantang. Orang yang saya cintai seolah ingin menguji seberapa terampil istrinya di dapur dan menunjukkanya pada orang banyak. Hmm... baiklah, saya akan membuatnya bangga.
Mulailah saya mengatur strategi, menyusun menu, menyiapkan perangkat saji (dan menyadari bahwa, piring, gelas, mangkuk sayur yang kami miliki minimalis dalam jumlah dan bentuk 😊), menghitung budget dan.... menelepon ibu. Seperti biasa, respon ibu datar saja, diam sejenak untuk berpikir kemudian bertanya,"Bisa?"
Tanpa pikir lagi saya jawab,"Bisa." Dan resep lezatnya kemudian meluncur dari seberang kota.
Dan akhirnya, inilah menu yang terpilih:
- ketupat sayur
- rendang
- nasi pecel
- es buah
dan aneka kue dan kerupuk
Tentang ketupat ini, ibu menyarankan agar diganti lontong saja. alasan beliau sih untuk menghemat waktu dan lebih tidak ribet. tentu dengan berat hati saya menolaknya, ketupat kan ikon idul fitri. Lagipula saya memutuskan untuk memesan ketupat yang sudah matang. Namun apa daya, ibu pembuat ketupat menolak untuk memasakkan ketupat pada malam takbiran. Alasan beliau sih karena melawan kebiasaan. Cring... saya jadi tahu bahwa di beberapa wilayah jawa, khususnya pesisir ada anggapan bahwa 'gak ilok', tidak tepat menyajikan ketupat tepat hari pertama idul fitri.
Dengan dibantu seorang tetangga yang masih remaja, malam takbiran harus saya habiskan di dapur. Menggoreng, menumis, merebus, meracik bumbu yang saya kira mudah ternyata cukup berat juga. menjelang tengah malam saya masih dibantu dan ditemani hingga tetangga saya pamit. Tak terasa waktu berlalu begitu cepat, matahari segera terbit, namun pekerjaan saya belum tuntas. ditambah dua jagoan yang butuh perhatian. Terbayangkan kacaunya pagi itu. Apa boleh buat, saya harus rela melepas suami dan anak-anak sholat Id dengan formasi tidak lengkap. (lagi-lagi saya harus bersyukur: betapa pengertiannya lelaki indah itu)
Bergegas saya segera menyiapkan hidangan, perlengkapan saji, memotong buah dengan pontang panting. Tepat beberapa detik terakhir pekerjaan usai datanglah rombongan tamu yang ditunggu, diawali suara tapak kaki dan celotehan jamaah cilik yang super heboh yang manjur mengilangkan kegugupan yang sempat mampir.
Dengan dibantu ibu-ibu jamaah yang turut berkunjung, tersajilah deretan hidangan lebaran yang sangat luar biasa menurut saya. Ah, riuh percakapan para jamaah di ruang tamu membuat kebahagiaan yang seakan tersumbat di dada meluap... Hidangan pun tandas. Alhamdulillah....
banyak hal yang baru saya sadari, bahwa ada kebajikan luar biasa yang tersirat dari indah dan lezatnya sajian di meja makan. rasa cinta, perjuangan dan filosofi luhur yang dapat kita pelajari dari sejarah tiap masakan, sebagai pesan moral yang diturunkan bersama ukuran bahan dan tradisi. seberapa besar rasa cinta yang kita sertakan saat memasak, sebesar itulah kelezatan yang akan dirasakan penikmat masakan kita.
Rabu, 24 Maret 2010
*masih adakah 'sisa' keindahan kata 'ukhuwah'? rinduku pada 'jiwa-jiwa' itu,smoga tetap terjaga hingga tak pernah hadirkan prasangka..
Senin, 30 November 2009
Kamis, 01 Oktober 2009
aku bertanya padamu...
aku hanya memandangnya heran.
seseorang bertanya padaku,"Apakah segala marahmu telah kau jual tuntas? hingga tak kau sisakan segurat pun di garis wajahmu?"
ingin kutatap matanya. kurasakan wajahku memanas
"Apakah kau terbuat dari segala wajah bunga, hingga tak tersisa keindahan yang bisa tergambar disekelilingku?"
"Apakah kau reguk semua madu hingga kata-kata manis saja yang keluar dari bibirmu?"
"Apakah cahaya temaram matahari pada rembulan terperangkap di matamu hingga tiap waktu bisa kurasakan hangatnya?"
"Apakah seluruh kelembutan bulu kupukupu telah menyatu pada sentuhanmu hingga kurasakan kenyamanan yang luar biasa?"
"apakah seluruh nyanyi angin dan kicau burung terserap pada pita suaramu, hingga lagu merdu selalu kudengar ingatkan salahku?"
dan dia terus bertanya... terus berkata, merayuku, membuatku semakin bahagia.
"Jawablah pertanyaanku, Ibu..." Lanjutnya. jemarinya yang mungil menyentuh pipiku dengan lembut.
Sabtu, 26 September 2009
Kalo gitu, aku pengen jadi Alloh saja…
Kalimat itu terucap dari bibir murid privat saya, 5 Juni lalu. Seorang anak laki-laki kelas dua di SD Islam.
Senja itu, cerita tentang beberapa nabi telah terlewati bersama mukjizatnya yang selalu membuat pikiran kanak-kanak berdecak. Lalu kami kembali kepada Nabi Adam AS. Dia bertanya,”Apa mukjizatnya?”
Tanpa berpikir panjang saya menjawab,”Beliau manusia pertama yang diciptakan Alloh.” Saya lanjutkan tentang penciptaan Hawa, membangkangnya iblis ketika diperintah Alloh untuk menghormat pada Adam, diturunkannya Adam dan Hawa dari Syurga. Dan janji iblis untuk mengajak manusia menjadi ‘temannya’ di neraka kelak.
Saya melihat ada banyak tanya di matanya. Tapi dia hanya berujar,”Wow.”
Sampai kisah Nabi Isa yang dapat meniupkan ruh pada burung buatan, menghidupkan orang yang telah mati, atas ijin Alloh.
Dia langsung memotong,”Berarti Alloh hebat dong. Keren!”
“Tentu.” Saya tersenyum. Dia sudah mulai paham.
“Kayak Naruto ustadzah, wow.”
“Jauh lebih hebat dari Naruto.”
“Enak dong, kalau mau apa-apa tinggal sret-sret..” Tangannya bergerak tak beraturan.
“Ya,” jawab saya
“Kalo gitu, aku pengen jadi Alloh saja.” katanya penuh binar
“Kenapa?”
“Ya karena hebat.”
Saya tersenyum, sebenarnya untuk menutupi kebingungan saya untuk mencari jawaban.
“Mas Dito tahu siapa itu Alloh?”
“Makanya saya pengen ketemu.” Jawaban yang jauh dari harapan saya.
“Mas Dito tahu Firaun? Raja di jaman Nabi Musa? Yang mengaku dia itu Alloh (Tuhan)?
“O, Nabi Musa yang pingsan waktu ingin ketemu Alloh itu ya?”
“Iya.”
“Silau itu mungkin ustadzah...”
”....”
Klise mungkin. Banyak pertanyaan semacam ini muncul dari bibir-bibir mungil itu. Penuh tanda tanya, dan imajinasi yang tidak terbatas.
Fragmen tadi membawa saya pada belasan tahun lalu, saat saya masih bermain-main di taman kanak-kanak. Jawaban singkat yang nyaris membuat saya mati.
“Bu, saya ingin bertemu Alloh,” saya mengacungkan tangan tiba-tiba. Diantara gaduhnya kelas.
Jawaban guru saya masih lekat dalam pikiran saya hingga sekarang,”Kalau mau ketemu Alloh harus mati dulu.”
Entah kenapa pernyataan itu terus menghantui. Yang kemudian membuat saya memutuskan untuk ‘mati sebentar’.
Saya menelungkupkan bantal pada wajah saya di kamar tidur siang itu. Saya tahan napas sekuat tenaga, hidung saya pencet dan membayangkan bertemu Alloh. Entah kenapa yang ada di bayangan saya saat itu adalah sosok raksasa Ultraman dan monster batu musuhnya. Gambar bintang dan komet di buku antariksa kakak saya bergerak-gerak di ruwet di kepala saya. Hingga saya pusing, dan gagallah usaha pertama. Esoknya saya mencoba lagi. Saya lupa apa yang kemudian membuat saya menghentikan aksi ini. Hingga di kemudian hari saya berpikir, ada berapa anak yang akan melakukan hal yang sama dengan pertanyaan seperti itu. Pertanyaan mendasar tentang akidah, yang bisa jadi akan selalu lekat pada ingatannya.
Bagaimana dengan anak-anak kita, jika jawaban itu mereka temukan melalui kehebatan Naruto, versi penguasa buminya Avatar. Atau pertanyaan itu dilontarkan kepada orang yang tidak tepat, yang akan mencari jawaban singkat agar tidak ada pertanyaan lagi setelahnya. Ketika pertanyaan itu ditujukan pada kita, siapkah untuk menjawab? Apakah kita dapat menjawabnya dengan tepat sesuai pemahaman mereka. Atau kita hanya tersenyum dan menjawab,” Sudah Nak, nanti kalau sudah besar pasti tahu sendiri…”
Isnatul Ismi
Majalah Ummi Maret 2009
Selasa, 04 Agustus 2009
...
mebuat peta hidup. menentukan pilihan-pilihan, melilih berbagai jalan, membuat rencana, mendaftar sesuatu yang akan kita tempuh... membuat opsi-opsi jika rencana-rencana tersebut tidak sesuai dengan keadaan yang akan dihadapi.
(berdasarkan pengalaman) Ada satu hal yang seringkali terlupakan atas pengambilan 'sesuatu' tersebut.
yaitu, apa yang akan kita lakukan jika rencana tersebut ditabrakkan pada suatu keadaan yang tak terelakkan : kematian.
ya, kematian, siapa yang bisa menjamin umur kita lima menit lagi, dua menit lagi, satu menit kedepan?
dalam kepala saya sekarang sedang terpikir sebuah rencana untuk makan soto ayam.... sanggupkah nikmat kuahnya saya rasai beberapa menit lagi?
Allahu'alam...
Allahuma ini 'audzubika minal kufri wal faqr wa'audzubika min adzabilqobr