Kamis, 01 Oktober 2009

aku bertanya padamu...

seseorang mengatakan padaku,"Kamu begitu romantis. apakah kau melahap gulagula dan puisi sekaligus menjelang tidur?"
aku hanya memandangnya heran.
seseorang bertanya padaku,"Apakah segala marahmu telah kau jual tuntas? hingga tak kau sisakan segurat pun di garis wajahmu?"
ingin kutatap matanya. kurasakan wajahku memanas
"Apakah kau terbuat dari segala wajah bunga, hingga tak tersisa keindahan yang bisa tergambar disekelilingku?"
"Apakah kau reguk semua madu hingga kata-kata manis saja yang keluar dari bibirmu?"
"Apakah cahaya temaram matahari pada rembulan terperangkap di matamu hingga tiap waktu bisa kurasakan hangatnya?"
"Apakah seluruh kelembutan bulu kupukupu telah menyatu pada sentuhanmu hingga kurasakan kenyamanan yang luar biasa?"
"apakah seluruh nyanyi angin dan kicau burung terserap pada pita suaramu, hingga lagu merdu selalu kudengar ingatkan salahku?"

dan dia terus bertanya... terus berkata, merayuku, membuatku semakin bahagia.
"Jawablah pertanyaanku, Ibu..." Lanjutnya. jemarinya yang mungil menyentuh pipiku dengan lembut.

Sabtu, 26 September 2009

Kalo gitu, aku pengen jadi Alloh saja…

Kalimat itu terucap dari bibir murid privat saya, 5 Juni lalu. Seorang anak laki-laki kelas dua di SD Islam.

Senja itu, cerita tentang beberapa nabi telah terlewati bersama mukjizatnya yang selalu membuat pikiran kanak-kanak berdecak. Lalu kami kembali kepada Nabi Adam AS. Dia bertanya,”Apa mukjizatnya?”

Tanpa berpikir panjang saya menjawab,”Beliau manusia pertama yang diciptakan Alloh.” Saya lanjutkan tentang penciptaan Hawa, membangkangnya iblis ketika diperintah Alloh untuk menghormat pada Adam, diturunkannya Adam dan Hawa dari Syurga. Dan janji iblis untuk mengajak manusia menjadi ‘temannya’ di neraka kelak.

Saya melihat ada banyak tanya di matanya. Tapi dia hanya berujar,”Wow.”

Sampai kisah Nabi Isa yang dapat meniupkan ruh pada burung buatan, menghidupkan orang yang telah mati, atas ijin Alloh.

Dia langsung memotong,”Berarti Alloh hebat dong. Keren!”

Tentu.” Saya tersenyum. Dia sudah mulai paham.

Kayak Naruto ustadzah, wow.”

Jauh lebih hebat dari Naruto.”

Enak dong, kalau mau apa-apa tinggal sret-sret..” Tangannya bergerak tak beraturan.

Ya,” jawab saya

Kalo gitu, aku pengen jadi Alloh saja.” katanya penuh binar

Kenapa?”

Ya karena hebat.”

Saya tersenyum, sebenarnya untuk menutupi kebingungan saya untuk mencari jawaban.

Mas Dito tahu siapa itu Alloh?”

Makanya saya pengen ketemu.” Jawaban yang jauh dari harapan saya.

Mas Dito tahu Firaun? Raja di jaman Nabi Musa? Yang mengaku dia itu Alloh (Tuhan)?

O, Nabi Musa yang pingsan waktu ingin ketemu Alloh itu ya?”

Iya.”

Silau itu mungkin ustadzah...”

....”

Klise mungkin. Banyak pertanyaan semacam ini muncul dari bibir-bibir mungil itu. Penuh tanda tanya, dan imajinasi yang tidak terbatas.

Fragmen tadi membawa saya pada belasan tahun lalu, saat saya masih bermain-main di taman kanak-kanak. Jawaban singkat yang nyaris membuat saya mati.

Bu, saya ingin bertemu Alloh,” saya mengacungkan tangan tiba-tiba. Diantara gaduhnya kelas.

Jawaban guru saya masih lekat dalam pikiran saya hingga sekarang,”Kalau mau ketemu Alloh harus mati dulu.”

Entah kenapa pernyataan itu terus menghantui. Yang kemudian membuat saya memutuskan untuk ‘mati sebentar’.

Saya menelungkupkan bantal pada wajah saya di kamar tidur siang itu. Saya tahan napas sekuat tenaga, hidung saya pencet dan membayangkan bertemu Alloh. Entah kenapa yang ada di bayangan saya saat itu adalah sosok raksasa Ultraman dan monster batu musuhnya. Gambar bintang dan komet di buku antariksa kakak saya bergerak-gerak di ruwet di kepala saya. Hingga saya pusing, dan gagallah usaha pertama. Esoknya saya mencoba lagi. Saya lupa apa yang kemudian membuat saya menghentikan aksi ini. Hingga di kemudian hari saya berpikir, ada berapa anak yang akan melakukan hal yang sama dengan pertanyaan seperti itu. Pertanyaan mendasar tentang akidah, yang bisa jadi akan selalu lekat pada ingatannya.

Bagaimana dengan anak-anak kita, jika jawaban itu mereka temukan melalui kehebatan Naruto, versi penguasa buminya Avatar. Atau pertanyaan itu dilontarkan kepada orang yang tidak tepat, yang akan mencari jawaban singkat agar tidak ada pertanyaan lagi setelahnya. Ketika pertanyaan itu ditujukan pada kita, siapkah untuk menjawab? Apakah kita dapat menjawabnya dengan tepat sesuai pemahaman mereka. Atau kita hanya tersenyum dan menjawab,” Sudah Nak, nanti kalau sudah besar pasti tahu sendiri…”


Isnatul Ismi

Majalah Ummi Maret 2009


Selasa, 04 Agustus 2009

...

kadang, atau mungkin seringkali, (memang harus?) setiap menjelang tidur kita memaknai kembali apa yang akan dan telah kita lakukan, pikirkan, rencanakan...
mebuat peta hidup. menentukan pilihan-pilihan, melilih berbagai jalan, membuat rencana, mendaftar sesuatu yang akan kita tempuh... membuat opsi-opsi jika rencana-rencana tersebut tidak sesuai dengan keadaan yang akan dihadapi.
(berdasarkan pengalaman) Ada satu hal yang seringkali terlupakan atas pengambilan 'sesuatu' tersebut.
yaitu, apa yang akan kita lakukan jika rencana tersebut ditabrakkan pada suatu keadaan yang tak terelakkan : kematian.
ya, kematian, siapa yang bisa menjamin umur kita lima menit lagi, dua menit lagi, satu menit kedepan?

dalam kepala saya sekarang sedang terpikir sebuah rencana untuk makan soto ayam.... sanggupkah nikmat kuahnya saya rasai beberapa menit lagi?
Allahu'alam...
Allahuma ini 'audzubika minal kufri wal faqr wa'audzubika min adzabilqobr

Rabu, 06 Mei 2009

ramai...

Lucu, kadang saya merasa terlalu aneh hidup ini. Why?

Suatu saat, ketika saya berada diatas bis yang membawa tubuh saya ke Surabaya pikiran saya melayang ke mana-mana. Ke jalanan, ke pohon-pohon yang seolah mengejar, ke wajah-wajah di sekitar saya, ke suara-suara yang semakin menghanyutkan pikiran saya menuju lamunan.

Ketika melewati suatu tempat, dari kejauhan nampak gugusan gunung yang lebih luas, setelah beberapa gunung dan bukit saya lewati di awal perjalanan tadi. Nah, dari sini kepala saya mulai riuh bersuara,”Lha ngapain orang hidup susah-susah. Panas-panas di pinggiran jalan, nyanyi keras-keras dihadapan para penumpang angkutan yang terkantuk-kantuk bosan, ato bahkan rela menjual harga diri (yang katanya demi sesuap nasi). Ngapain susah-susah? Apa si yang dikejar?”

Lalu suara di sebelahnya bilang,”Ya nyari duit lah, nyari makan, nyari kehidupan. Memenuhi kebutuhan. Demi eksistensi (halah!).”

Hmm.... lalu mulai deh riuh terdengar di kepala saya. Kenapa musti susah-susah, kembali aja ke desa, hidup tu di pegunungan. Rumah? Cukup buat dapur, kamar, sama ruang tamu. Ga sampe tiga puluh meter luasnya. Manusia butuh makan tho? Berapa banyak sih? Se gerobak? Se truk? Seberapa? Paling banyak ya tiga piring (perutnya seberapa ya?). tinggal nanem itu kentang, jagung, pisang, singkong, mangga, duren(lha ini sih bukan kebutuhan pokok), sawi, bayem, kedele, cabe, bawang, tomat. Secukupnya saja, ngga perlu banyak-banyak, toh tiap hari dia juga akan tumbuh, menjadi besar dan banyak. Nasi? Bisa kok didapat dengan jual barang-barang tadi. Ato tukeran sama tetangga yang nanem beras (lebih tepatnya padi). Kebutuhan protein dan lemaknya? Ya melihara ayam, kambing, bebek, ga susah kan? ‘limbah’nya bisa buat pupuk. Makanannya daun singkong ato rumput-rumput liar di pinggiran sungai(saingan sama yang melihara hehe..). Kalo berlebih ya dijual buat beli minyak, garem, gula, trasi (yang ini kan ga bisa produksi sendiri). Wah... kebutuhan kan engga Cuma makan, pendidikan piye? Lalu jawab suara satunya: ya diajarin sendiri. Apa dasarnya? Baca sama nulis to? Bisa belajar dari itu buku-buku, lebih orisinal soalnya ga terkontaminasi sama wacana-wacana aneh di luaran sana, ga tercampur sama erornya acara televisi. Untuk kesehatan? Ye... gimana bisa sakit, wong udaranya buersih je. Ga ada polusi, ga ada makanan yang aneh-aneh. Paling ya masuk angin, capek-capek aja. Sosialisasi gimana? Kan ada tetangga, juga peliharaan (ayam, kambing, bebek, kelinci) ajak tu bicara biar mereka betah, seneng makan, semakin gemuk, semakin banyak. Ada juga taneman, ajak ngomong juga... bisa bikin tenang lho (yang ini bisa dicoba, tapi ngomongnya jangan keras-keras. Bahaya.)

wah... kalo perbincangan di kepala saya semua dituliskan bisa panjang ceritanya. Tapi akhirnya gini:

Ooiii.... sadar! Tanah di pegunungan dan pedesaan sekarang muuahal... lagian mana ada orang yang masih mau diajak barteran ditengah krisis ekonomi global (jie.. apaan yang ini?). memang nanem sama melihara kayak gituan butuh tanah Cuma semeter dua meter? Berapa modal? Lha wong sekarang banyak orang yang bisnis pegunungan dan pedesaan, dijadikan objek wisata, hotel-hotel, kawasan perumahan elite modern dengan besik bek tu natur, rame-rame sayuran organik, tipi-tipi sudah merajalela di sana. Barang-barang pokok juga mahal lho walo di pelosok. Motor sama mobil suaranya wes menderu-deru ribut ngalahkan suara merdunya si embek. Lha kalo gini ya ga ada bedanya sama hidup di kota, bisa jadi lebih makan ati. Terus apa mau cari tempat yang lebih pelosok lagi? Hidup dalam goa? Babat alas? Lha alase sopo? Mau hidup sendiri? Hare gene ga ada orang yang mau diajak hidup kaya gitu. Lah... siapa yang mau ngajak orang. Wong Cuma mau ngajak ibu sama embak sama ponakan-ponakan. Lha memange mereka mau? ‘Dipenjara’ sama hidup yang aneh gitu. Nganeh-nganehi wae... terus kalau semua orang berpikiran kaya gini, siapa yang nyupir bis, siapa yang kerja di pabrik2, siapa yang bikin baju, siapa yang.... Walah, bakal kacau dunia..

Setelah itu saya putuskan forum di kepala saya ditutup. Uwis Prend, capek, thats time to sleep. Jadilah saya memejamkan mata, sayup-sayup suara embek yang saya rindukan ikut membuai saya.. Hasbiyallah...

Hoho... bingung memahami tulisan diatas? Wis ga usah dibaca, wong itu Cuma pikiran aneh tentang hidup yang (kurasa) semakin anehJ

Nyalang mata elang menutup malam dengan kelam


Nyalang mata elang menatap malam. Dia merajai malam dalam benaknya. Dengan jumawa ditelitinya satu persatu makhluk riang yang masih berkeciap usang. Mereka yang kelelahan setelah seharian menapaki bumi menjalin cerita agar besok tersebutlah nostalgia. Mereka lengah ketika tiba-tiba tajam jemari elang menyambar tubuh mungil diantaranya. Sejenak makhluk-makhluk kecil itu terpana dan elang segera menembus malam bersama mangsa di genggamannya.

Elang terbang tinggi. Dia tak pernah menapak ke bumi, tak mau menapaki bumi. Hidupnya adalah dongeng penuh semangat namun nyatanya adalah merasa perkasa, yang terbang di ketinggian dengan perlahan. Elang hanyalah ilusi, mengalahkan hud mungil yang melesat cepat merasai aroma tanah, membuat sejarah, tercatat indah. Bernyanyi indah di pelukan bumi.

Mangsa mungil di kaki elang dengan keperkasaannya dia berontak, rindukan sentuhan bumi yang semakin jauh ia rasai. Dan berakhir dalam perjuangannya yang sunyi

Nyala mata elang menembus kelam. Dia mencari, mengintai dan menikam. Tak merasa bahwa dia adalah sang raja tanpa pijakan.

Selasa, 28 April 2009

Kepada Kartika

Dalam diam kau bertanya

Tentang hidup dan kehidupan yang tumbuhkan badai gejolak di dadamu

Dalam tenang kau meraba. Berapa banyak jalan

Yang harus kau lalui sebelum semuanya diakhiri

Kutatap wajah kuyumu

Satu hal yang tak kudapati, rona memerah pada pipi

Saat terik mentari masih bisa kau rasai

Tak lagi kutemukan gemintang di matamu yang pancarkan maksud hati

Mungkin kelam kini selubungi pandangmu

Atau cahaya putih yang lingkupi dunia barumu

Bisa jadi rangkaian jala pelangi yang berpendar bentangkan diri untuk temani perjalananmu

Tak mampu kutatap tubuh kakumu

Biar indah dan warnamu yang masih bertahta di kepalaku

Bukan akhir dari awal yang akan kau jalani

Aku tahu hanya sekali

Untukmu

Untukku

Untuk tubuh-tubuh yang sekarang mengelilingimu

Untuk tiap aliran sungai yang mengalir darah pada tubuh-tubuh penuh rasa

Aku tahu hanya sekali

Hanya datang sekali

Setelah itu, biru.

Kelinci kecil yang tersesat

Jika aku adalah seekor kelinci kecil yang tersesat di sebuah pasar malam, akan kudatangi permainan rolet yang begitu menggiurkan. Kupangkas satu persatu ambisi dalam mata-mata manusia itu dengan jernih mataku. Kuumbar lugu agar mereka terlenan dalam ramainya ego yang berkejaran, berkelabat diantara tubuh-tubuh itu. Lalu akan kutenggak dari botol yang digenggam oleh bandar tambun itu biar aku mabuk dan menari bersama kesadaran bernama kekalahan.

Jika aku adalah seekor kelinci yang nyasar di sebuah pasar malam, akan kurogoh peti uang para pengadu keuntungan agar tekumpul di karungku dan kuseret pada perempuan penjual tahu atau kakek penjaja jamu. Kutanya pada mereka tentang janji malam ini pada anak-anaknya, lalu kusisihkan untuknya; kulumlah rasa itu dan bagi pada anak-anakmu yang rindu manis kasih dari keping-keping tak berharga itu.

Jika aku adalah seekor kelinci yang nyasar di sebuah pasar malam, kuseret karung penuh keping dari pundi para penjudi. Kuhampiri penjual gula-gula dan boneka, kubagai pada kanak-kanak tanpa senyum masih polosnya agar mereka bercengkrama bersama manis asap kehidupan.

Jika aku adalah seekor kelinci yang tersesat di sebuah pasar malam, aku akan segera pulang setelah pundi-pundi kuhabiskan. Toh aku hanya seekor kelinci yang hanya butuh sepotong wortel atau segenggam sayuran untuk kumakan. Jika aku adalah seekor kelinci yang mencari jalan pulang dari pasar malam, akan kucari kelinci jantan yang kuat, karena besok aku ingin menghabiskan malam di hiruk pikuknya lapangan ini dan menghimpun pundi-pundi tak berharga lebih banyak lagi, agar punggung dan lenganku bisa bergerak bebas tanpa beban, nikmati senyum dan potongan wortel dengan riang. Hh... masih kurasakan pundi-pundi itu terlalu berat terseret di belakang punggungku. Walau aku hanya jika seekor kelinci yang tersesat di sebuah pasar malam.